Kebutuhan Manusia untuk Bercerita: Sejarah Cara Kita Memahami Dunia

9

Manusia terprogram untuk bercerita. Bahkan ketika disajikan hanya dengan bentuk abstrak, otak kita akan menciptakan narasi. Dorongan mendasar ini, yang dieksplorasi dalam The Story of Stories karya Kevin Ashton, bukanlah kekhasan evolusi—melainkan mesin yang menggerakkan cara kita memahami keberadaan. Buku ini menelusuri kebutuhan ini mulai dari api unggun kuno hingga media sosial modern, mengungkapkan bagaimana metode bercerita telah berubah sementara dorongan yang mendasarinya tetap konstan.

Akar Narasi Kuno

Ashton memulai dengan meninjau kembali bentuk-bentuk penceritaan paling awal: pertemuan di sekitar api tempat manusia purba berbagi kenangan, membayangkan masa depan, dan menciptakan ikatan melalui cerita bersama. Ini bukan sekadar hiburan; itu adalah mekanisme bertahan hidup. Cerita memperkuat kohesi sosial, menyebarkan pengetahuan penting, dan menawarkan cara untuk memproses ketidakpastian dunia.

Buku ini kemudian melompati waktu, menyoroti perubahan-perubahan penting dalam cara cerita diciptakan dan disebarkan. Penemuan tulisan, mesin cetak, dan listrik semuanya berperan sebagai percepatan teknologi, memperluas jangkauan dan volume narasi. Namun, keinginan inti manusia tetap sama: memahami kekacauan melalui makna bersama.

Sisi Gelap Bercerita: Misinformasi dan Manipulasi

Ashton tidak menghindar dari implikasi gelap dari dorongan bercerita kita. Dia menunjuk pada contoh-contoh sejarah—seperti pabrik kertas pada tahun 1800-an yang menggunakan kain yang diambil dari mumi Mesir, lalu menyembunyikan sumbernya—untuk menggambarkan betapa mudahnya narasi dapat diputarbalikkan demi keuntungan atau kenyamanan.

Saat ini, era digital memperbesar bahaya-bahaya ini. Buku ini merinci bagaimana misinformasi menyebar selama pandemi COVID-19, berkontribusi terhadap keragu-raguan terhadap vaksin dan kematian yang sebenarnya dapat dicegah. Yang lebih mengkhawatirkan lagi, munculnya AI generatif dapat membuat penipuan menjadi lebih mudah. Gambar, video, dan audio palsu yang realistis menjadi semakin umum, sehingga mengaburkan batas antara kebenaran dan palsu.

Ashton memperingatkan bahwa aktor-aktor berpengaruh akan mengeksploitasi teknologi ini untuk menulis ulang narasi secara surut, mengubah persepsi masa lalu dan memanipulasi masa kini. Platform digital, menurutnya, tidak hanya mencerminkan realitas tetapi juga membentuk realitas tersebut.

Jalan ke Depan: Kewaspadaan, Keraguan, dan Kerendahan Hati

Satu-satunya pertahanan terhadap serangan manipulasi ini, menurut Ashton, adalah skeptisisme yang sehat. Kita harus menyadari kerentanan kita terhadap narasi palsu dan memupuk kewaspadaan, keraguan, dan kerendahan hati dalam mengonsumsi informasi.

Ini bukanlah pesan yang penuh harapan, namun pesan yang realistis. Namun, Ashton menyimpulkan dengan nada optimis: banyaknya cerita, bahkan yang dipicu oleh kebencian, menciptakan sebuah penyeimbang. “Keindahan dan kemuliaan seluruh umat manusia yang heterogen” mungkin masih bisa meredam kebisingan.

Buku ini pada akhirnya berfungsi sebagai pengingat bahwa mendongeng bukan sekedar hobi—namun merupakan kekuatan mendasar yang membentuk pemahaman kita tentang dunia. Menyadari kekuatannya, baik dalam kebaikan maupun keburukan, sangat penting untuk menghadapi realitas yang semakin kompleks dan dimanipulasi.