Potensi ‘Superkilonova’ Pertama yang Teramati dalam Ledakan Jauh

26

Para astronom mungkin telah menyaksikan “superkilonova” pertama yang diketahui – sebuah peristiwa kosmik yang belum pernah terjadi sebelumnya yang menggabungkan unsur-unsur supernova dan penggabungan bintang neutron. Penemuan ini, yang dirinci dalam Surat Jurnal Astrofisika tanggal 20 Desember, berpusat pada ledakan bintang jauh yang tampaknya terjadi dalam dua fase berbeda. Hal ini penting karena menantang model yang ada tentang perilaku sisa-sisa bintang padat, sehingga berpotensi mengungkap jalur baru bagi penciptaan unsur-unsur berat di alam semesta.

Sinyal Tidak Biasa

Peristiwa tersebut dimulai dengan riak dalam ruangwaktu yang terdeteksi oleh Laser Interferometer Gravitational-wave Observatory (LIGO) dan detektor Virgo di Italia. Sinyal-sinyal ini menunjukkan penggabungan dua bintang neutron yang berjarak sekitar 1,8 miliar tahun cahaya. Yang membedakan peristiwa ini adalah setidaknya salah satu bintang neutron yang bergabung tampak memiliki massa lebih kecil dari Matahari.

Hal ini penting karena fisika bintang memperkirakan bintang neutron – sisa-sisa supernova yang sangat padat – setidaknya memiliki massa 1,4 kali massa Matahari kita. Setiap bintang neutron yang diamati sebelumnya berukuran lebih masif. Anomali ini awalnya membingungkan para peneliti, menunjukkan bahwa sesuatu yang tidak biasa sedang terjadi.

Dari Kilonova ke Supernova?

Pengamatan lanjutan di Observatorium Palomar mengungkapkan cahaya kemerahan yang berasal dari arah yang sama dengan sinyal gelombang gravitasi. Data awal menyerupai kilonova, suatu peristiwa yang diketahui menghasilkan unsur-unsur berat seperti emas dan platinum melalui penangkapan neutron yang cepat.

Namun, tidak seperti kilonova pada umumnya, objek ini mulai bersinar kembali, menunjukkan karakteristik yang lebih umum dikaitkan dengan supernova – khususnya, keberadaan hidrogen. Hal ini menyebabkan para astronom mengajukan hipotesis radikal: peristiwa yang diamati mungkin merupakan kilonova di dalam supernova, atau “superkilonova”.

Mekanisme yang Diusulkan

Teori terkemuka menyatakan bahwa sebuah bintang pertama kali meledak sebagai supernova, meninggalkan bintang neutron yang berputar cepat. Bintang neutron ini kemudian terfragmentasi, kemudian terpecah menjadi bintang-bintang yang lebih kecil atau membentuk piringan berputar yang menyatu menjadi beberapa bintang neutron – sebuah proses yang mirip dengan pembentukan planet. Tabrakan selanjutnya dari bintang-bintang neutron yang lebih kecil ini akan menghasilkan tanda kilonova yang teramati.

Masih Ada Ketidakpastian

Tidak semua peneliti yakin. Salah satu kekhawatiran utama adalah apakah sinyal gelombang gravitasi itu asli, atau sekadar suara bising dari sumber terestrial. LIGO sedang melakukan analisis lebih lanjut untuk mengesampingkan kemungkinan ini. Selain itu, memverifikasi bahwa sinyal cahaya dan gelombang gravitasi benar-benar berasal dari peristiwa yang sama masih merupakan sebuah tantangan.

Seperti yang dikemukakan oleh astronom Cole Miller, “Apakah bukti yang ada saat ini menunjukkan bahwa Anda akan menjual rumah Anda untuk membeli tiket [teori superkilonova]? Tidak.” Namun, potensi implikasinya cukup kuat sehingga memerlukan penyelidikan lebih lanjut.

Pencarian Berlanjut

Mengonfirmasi peristiwa ini memerlukan observasi tambahan. Menemukan peristiwa serupa, terutama yang dekat dengan Bumi, akan memperkuat hipotesis secara signifikan. Namun peristiwa ini sangat jarang terjadi; hanya dua kilonova yang pernah diamati dengan gelombang elektromagnetik dan gravitasi.

Meskipun terdapat ketidakpastian, penemuan terbaru ini menggarisbawahi kemampuan alam semesta untuk memberikan kejutan. Kelangkaan superkilonova menunjukkan bahwa peristiwa ini tidak biasa, namun keberadaannya membuka jalan baru untuk memahami fenomena astrofisika ekstrem.