Lebih Banyak Ras Anjing Menghadapi Risiko Pernapasan: Penelitian Baru Mengungkapkan Krisis Kesehatan yang Meluas

23
Lebih Banyak Ras Anjing Menghadapi Risiko Pernapasan: Penelitian Baru Mengungkapkan Krisis Kesehatan yang Meluas

Penelitian baru mengungkapkan bahwa lebih banyak ras anjing daripada yang diperkirakan sebelumnya, berisiko tinggi mengalami masalah pernapasan yang parah. Temuan ini menggarisbawahi meningkatnya krisis kesehatan anjing terkait dengan pembiakan selektif untuk ciri-ciri fisik yang berlebihan, terutama pada ras dengan moncong pendek dan wajah rata – yang dikenal sebagai ras brachycephalic.

Semakin Bertambahnya Daftar Ras Berisiko

Selama bertahun-tahun, anjing bulldog Inggris, bulldog Prancis, dan anjing pug telah menjadi fokus utama perhatian terkait sindrom saluran napas obstruktif brachycephalic (BOAS). Kondisi ini menyebabkan sesak napas, intoleransi olahraga, dan kesulitan mengatur suhu tubuh. Namun, penelitian terbaru yang dipimpin oleh Francesca Tomlinson di Universitas Cambridge meneliti 898 anjing dari 14 ras untuk menentukan cakupan sebenarnya dari masalahnya.

Penelitian ini mencakup anjing affenpinscher, anjing terrier Boston, petinju, anjing spaniel King Charles yang angkuh, Chihuahua, Dogue de Bordeaux, Griffon Bruxellois, dagu Jepang, anjing Malta, Peking, anjing spaniel King Charles, anjing Pomeranian, shih tzus, dan anjing terrier banteng Staffordshire. Hasilnya mengkhawatirkan:

  • Dagu Peking dan Jepang memiliki risiko tertinggi, dengan lebih dari 80% anjing terkena dampaknya.
  • Lima ras anjing (King Charles spaniel, shih tzu, Griffon Bruxellois, Boston terrier, dan Dogue de Bordeaux yang angkuh) menunjukkan risiko sedang, dengan BOAS memengaruhi 50–75% anjing.
  • Malta dan Pomeranian adalah satu-satunya ras yang tidak ditemukan kasus signifikan secara klinis.

Mengapa Ini Penting: Dampak Pembiakan Ekstrim

Meningkatnya popularitas ras ini selama beberapa tahun terakhir berkorelasi langsung dengan peningkatan masalah kesehatan yang parah. Para peternak yang mengutamakan ciri-ciri estetika daripada fungsi fisiologis telah membuat anjing rentan terhadap penderitaan kronis.

Studi tersebut mengidentifikasi tiga faktor utama yang berkontribusi terhadap gangguan pernapasan: obesitas, lubang hidung menyempit, dan wajah datar yang ekstrem. Namun, ciri-ciri lain—seperti ekor yang terlalu pendek atau melengkung—mungkin juga berperan dalam perubahan anatomi yang memperburuk BOAS.

Ini bukan hanya tentang “wajah datar” saja; ini tentang efek kumulatif dari fitur-fitur berlebihan yang dipilih dalam program pemuliaan. Temuan ini menekankan bahwa pembiakan selektif bukan hanya soal genetika tetapi juga konsekuensi fungsional.

Yang Harus Dilakukan Pemilik dan Peternak

Para ahli mendesak calon pemilik untuk mengutamakan kesehatan daripada penampilan. Carilah peternak yang melakukan pengujian kesehatan menyeluruh pada induk anjing dan mendidik diri Anda sendiri tentang potensi implikasi dari ciri-ciri fisik yang ekstrim.

Seperti yang ditunjukkan oleh Anna Quain dari Universitas Sydney, membiakkan anjing bermuka datar sama dengan “merancang mobil tanpa radiator”. Sasarannya harus mengutamakan kesejahteraan, bukan meneruskan preferensi manusia dengan mengorbankan kesehatan hewan.

Peternak harus fokus dalam melakukan seleksi terhadap ciri-ciri ekstrim, karena penyesuaian kecil sekalipun dapat mengurangi risiko penyakit. Paul McGreevy dari University of Sydney mencatat bahwa label ras tidak relevan jika menyangkut masalah saluran napas. Masalah sebenarnya adalah tingkat berlebihan secara fisik.

Meskipun beberapa aspek metodologi penelitian ini dipertanyakan, khususnya mengenai subjektivitas penilaian suara pernafasan, para peneliti berpendapat bahwa protokol standar dan kriteria obyektif digunakan untuk memastikan konsistensi. Tujuan tes pengerahan tenaga bukanlah performa atletik, namun untuk menilai bagaimana respons saluran napas terhadap tekanan ringan.

Pesan intinya jelas: memprioritaskan fungsi dibandingkan penampilan ekstrem sangat penting untuk mengurangi penderitaan pada ras brachycephalic. Pemilik, peternak, dan komunitas dokter hewan harus berkolaborasi untuk mengatasi krisis kesehatan yang semakin meningkat ini.